header image
 

All posts in March 3rd, 2015

 Mau Mengakui Kelemahan..

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”  2 Korintus 12:9b

Setiap manusia pasti memiliki kelemahan-kelemahan, entah disadari atau tidak.  Seringkali kita tidak mau mengakuinya dan merasa gengsi untuk mengatakan bahwa kita ini lemah.  Kita menganggap diri kita kuat:  “Aku sanggup melakukannya sendiri, aku tidak perlu orang lain.  Aku berhasil oleh karena usaha dan kerja kerasku, bukan karena siapa-siapa!”

Awal pertama ketika mendapat panggilan dari Tuhan, nabi Yesaya mengalami perkara yang luar biasa, di mana Tuhan menyatakan kemuliaan atasnya dan melalui para malaikatNya Tuhan memperdengarkan suaraNya.  Pada saat itulah Yesaya menyadari akan keberadaan dirinya di hadapan Tuhan:  seseorang yang najis, lemah dan tidak layak.  Lalu Tuhan berkata,  “…kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”  (Yesaya 6:7).  Untuk mengalami pemulihan dari Tuhan, kita harus dapat melihat siapa kita ini di hadapan Tuhan dan mau mendengar suaraNya.  Banyak orang Kristen yang tidak peka akan suara Tuhan oleh karena mereka mengalami  ‘tuli rohani’.  Hal ini disebabkan karena perhatiannya yang lebih besar terhadap perkara-perkara duniawi, terfokus pada kekuatan dan kepintaran manusia.  Tuhan menghendaki setiap orang percaya mempunyai pendengaran yang peka terhadap suaraNya, karena dari mendengar suara Tuhan kita menyadari keberadaan kita dan langkah-langkah hidup kita akan terarah.  Dan ketika kita sudah berjalan bersama dengan Tuhan, Ia akan mengubah kegagalan kita menjadi keberhasilan.

Mari belajar mengakui kelemahan-kelemahan kita.  Terkadang masalah, pencobaan, kegagalan dan sebagainya dipakai Tuhan sebagai alat untuk membuat kita sadar akan keberadaan kita yang lemah dan terbatas ini sehingga kita belajar bergantung dan mengandalkan Dia.  Rasul Paulus diijinkan Tuhan mengalami ujian dan tantangan, bahkan harus menghadapi  ‘duri dalam daging’.  Tapi ia menyikapi setiap masalah yang ada dari sudut pandang yang berbeda.  Mungkin bila kita berada dalam kondisi seperti Paulus kita akan banyak mengeluh dan memberontak kepada Tuhan.  Tetapi rasul Paulus tidak bersikap demikian, ia justru mengakui kelemahannya dan menerima semua itu dengan senang dan rela, karena ia tahu justru dalam kelemahannya itu ia menjadi semakin kuat karena kuasa Tuhan dinyatakan atasnya.

Jangan sombong, belajarlah untuk mengakui kelemahan yang ada!

Disadur dari Renungan Air Hidup

Tidak Lagi Peka Akan Suara Tuhan..

“Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!”  1 Samuel 3:13

Imam Eli menjadi bapak rohani bagi Samuel muda di rumah Tuhan.  Adapun tugas Eli adalah membimbing Samuel dan mempersiapkan dia menjadi pelayan Tuhan.  Tapi situasi yang terjadi pada saat itu  “…firman Tuhan jarang;  penglihatan-penglihatan pun tidak sering.”  (ayat 1b).

Mengapa hal itu bisa terjadi?  Bukankah Tuhan senantiasa menyatakan Diri dan kehendakNya kepada umat pilihanNya?  Keadaan ini dapat saja disebabkan oleh karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh anak-anak imam Eli, sementara imam Eli sendiri tidak tegas terhadap dosa anak-anaknya.  Alkitab menyatakan bahwa anak-anak Eli, yaitu Hofni dan Pinehas, hidup menyimpang dari firman Tuhan.  Mereka sangat memandang rendah korban untuk Tuhan.  Keduanya juga sering meminta paksa daging yang hendak dipersembahkan untuk korban bagi Tuhan seperti tertulis:  “Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.”  (1 Samuel 2:16b).  Tidak hanya itu, mereka juga tidur dengan perempuan-perempuan di pintu kemah pertemuan.  Namun imam Eli tidak bertindak tegas terhadap anak-anaknya, ia memilih untuk tidak memarahi mereka.  Ini menunjukkan bahwa imam Eli lebih mengasihi anak-anaknya daripada mengasihi Tuhan.

Jadi, yang menjadi pertanyaan mengapa Tuhan tidak menyatakan kehendakNya bukan pada diri Allah, tetapi pada diri manusia itu sendiri.  Situasi ketika Tuhan  ‘berdiam diri’  nampaknya membuat imam Eli tidak lagi peka akan suara Tuhan, di mana ia tidak tahu lagi membedakan yang manakah suara Tuhan.  Imam Eli tidak lagi menyadari akan kehadiran Tuhan.  Ini terlihat jelas ketika Tuhan memanggil-manggil Samuel, imam Eli malah menyuruh Samuel untuk tidur.  Dan baru setelah Tuhan memanggil Samuel untuk ketiga kalinya,  “…mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggi anak itu.”  (1 Samuel 3:8c).  Waktu itu Samuel masih belum mengenal suara Tuhan, dalam arti belum memiliki pengalaman mendengar Tuhan berbicara kepadanya secara langsung.  Berbeda dengan imam Eli yang seharusnya lebih peka akan suara Tuhan.  Sayang, imam Eli telah kehilangan kepekaan akan suara Tuhan.

Akhirnya ketika Tuhan menyatakan bahwa Ia hendak menghukum keluarganya, imam Eli hanya bisa pasrah dan tidak membantah!

Disadur dari Renungan Air Hidup


“Rabu,22 Februari 2015 di Gedung GMIT Agape jam 16.00-19.00 wita”

From Ibadah Perayaan Imlek Komisi Kaum Wanita Bersama Komisi Lansia, posted by Ingrid Aprolyne Boesday on 3/02/2015 (68 items)

Generated by Facebook Photo Fetcher 2